Jumat, 25 Desember 2009

Siti Nurbaya

Jumat, 25 Desember 2009

Penduduk Kota Padang menyebut bukit kecil yang menjorok ke laut persis di muara sungai itu Gunung Padang. Ketinggian bukit hanya sekitar 200 meter dari permukaan laut, tidak pantas disebut gunung. Sejak zaman kolonial, bukit tersebut juga berfungsi sebagai areal perkuburan masyarakat yang tinggal di sekitar muara sungai hingga ditutup 1990-an, setelah ada larangan dari Pemerintah Kota Padang. Kini Gunung Padang diyakini banyak orang sebagai tempat berkuburnya Sitti Nurbaya, tokoh cerita novel karya Marah Rusli.

Keyakinan semakin meluas setelah cerita novel itu ditayangkan dalam bentuk sinetron di pengujung abad ke-20 lalu. Bahkan, sebuah jembatan megah, yang baru saja selesai dibangun di awal 2000-an menghubungkan kedua sisi sungai yang juga berfungsi sebagai pelabuhan itu, juga diberi nama Jembatan Sitti Nurbaya. Kedengaran aneh, kalau selama ini nama-nama suatu tempat yang dianggap monumental diberi nama-nama tokoh pejuang/pahlawan.

Selain tokoh fiksi yang pertama kali hadir di dalam novel Sitti Nurbaya yang ditulis oleh sastrawan Marah Rusli asal Padang, adakah tokoh lain dalam sejarah hingga nama Sitti Nurbaya begitu melegenda hampir di setiap pikiran masyarakat Kota Padang dan sekitarnya, bahkan masyarakat Nusantara?


Barangkali, tidak ada tokoh fiksi lain dalam kesusastraan Indonesia modern yang mampu menyaingi kepopuleran Sitti Nurbaya. Tokoh ini telah menjadi mitos yang diyakini oleh masyarakatnya sebagai tokoh yang pernah hidup.

Menurut Barthes (1981), mitos bukanlah suatu konsep atau gagasan, melainkan suatu lambang dalam bentuk wacana. Mitos adalah suatu sistem komunikasi yang memberikan pesan berkenaan dengan aturan masa lalu, ide, ingatan dan kenangan, atau keputusan-keputusan yang diyakini.

Ditegaskan lagi, mitos bukanlah benda, tetapi dapat dilambangkan dengan benda. Sebagai aturan-aturan masa lalu yang diyakini masyarakat terhadap mitos Sitti Nurbaya antara lain tergambar dalam ungkapan bahwa sekarang bukan zamannya Sitti Nurbaya lagi, tak ada orangtua yang menjual putrinya kepada rentenir tua untuk menutup utang. Sementara, sebagai lambang, jembatan dan kuburan itu, telah melambangkan keberadaan Sitti Nurbaya di masa lalu secara semiotik.

Mitos

Bila diingat bahwa novel Sitti Nurbaya adalah hasil karya sastra tulis yang ditulis oleh sastrawan Marah Rusli pada abad lalu, kini telah menjadi mitos, maka pertanyaan yang muncul adalah bagaimanakah kedudukan cerita Malin Kundang yang merupakan karya sastra lisan yang ano... dapat sejajar dengan Sitti Nurbaya? Bukanlah Malin Kundang lahir di tengah masyarakat yang belum mengenal tradisi sastra tulis?

Masyarakat Minangkabau di masa lalu hidup dengan tradisi sastra lisan, antara lain sangat mengenal cerita-cerita lisan yang disebut kaba. Selain disampaikan kepada penikmatnya melalui lisan, kaba-kaba yang hidup di tengah masyarakat pada masa itu juga disampaikan melalui seni pertunjukan, seperti teater tradisional randai, atau diiringi musik salueng (alat musik tiup dari bambu), dan sebagainya.

Memang, zaman sekarang sudah hampir semua kaba yang hidup di masa lalu itu sudah ditulis orang dengan berbagai versi, baik yang masih mempertahankan bentuknya yang prosa liris, maupun yang sudah berupa prosa, tak terkecuali kaba Malin Kundang.

Menurut Umar Junus dalam bukunya Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau (1984), kaba Malin Kundang masa kini hanya menyisakan nilai-nilai edukatif saja bahwa kelakuan Malin Kundang tak pantas ditiru. Padahal, menurutnya, mungkin ada nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam kaba "aslinya" dulu oleh pencipta yang tak pernah akan diketahui, tetapi telah hilang akibat kelisanannya itu.

Tentu saja sulit membuktikan ada-tidaknya nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalam sebuah kaba yang tidak tertulis, di tengah masyarakat yang tidak mempunyai tradisi membaca karena tidak memiliki aksara.

Adakah masyarakat Kota Padang dan sekitarnya yang menjadi latar cerita tersebut membaca novel Sitti Nurbaya saat ini? Atau setidaknya, adakah generasi mudanya membaca novel tersebut sewaktu masih duduk di bangku SMP atau SMA meski telah mengalami cetak ulang lebih dari dua puluh kali sejak pertama terbit 1922? Ternyata tidak.

Hal itu terungkap ketika semester kedua 2006 lalu saya membagikan angket untuk tiga kelas mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP, yaitu dua kelas program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan satu kelas program studi Sastra Indonesia, dan tidak seorang pun yang membaca novel Sitti Nurbaya.

Namun, semua mahasiswa mengenal tokoh Sitti Nurbaya dan esensi cerita novel itu. Mereka juga tahu bahwa "kuburan" Sitti Nurbaya terletak di Gunung Padang. Mereka mengaku mengenal Sitti Nurbaya melalui sinetron dan beberapa orang melalui sinopsis cerita.

Terdegradasi

Hal serupa juga bisa dianalogikan dengan kasus Romeo and Juliet karya drama Shakespeare yang telah terlanjur menjadi mitos dunia. Namun, sangat sedikit orang yang membaca karya sastra itu sekarang, itu pun untuk kepentingan kajian sastra. Generasi muda Indonesia hanya tahu bahwa Romeo and Juliet adalah kisah cinta yang tragis, tak lebih dan tak kurang.

Dengan demikian, apa yang disinyalir Umar Junus memang benar bahwa sastra lisan pada akhirnya hanya tersisa nilai-nilai edukatifnya saja tanpa mengenal nilai-nilai filosofis dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalam karya sastra itu. Dengan kata lain Sitti Nurbaya dan Romeo and Juliet telah terdegradasi oleh kelisanan masyarakat penikmatnya.

Tidak salah kalau sebagian besar mahasiswa menjawab bahwa Sitti Nurbaya adalah tokoh masa lalu yang menjadi korban kawin paksa, sementara tokoh Datuk Maringgih adalah tokoh jahat yang kikir, doyan wanita muda, dan telah menjebak ayah Sitti Nurbaya dengan meminjamkan uang banyak hingga tak terbayarkan, kecuali dengan menyerahkan Sitti sebagai istrinya yang keempat.

Betulkah tokoh Sitti Nurbaya dipaksa ayahnya menikah dengan Datuk Maringgih? Betulkah Datuk Maringgih tokoh jahat?

Stereotip itu ternyata telah menjadi mitos dan melekat di alam pikiran masyarakat yang tidak membaca novel tersebut. Dalam hal ini tidak berbeda dengan pemahaman masyarakat terhadap kaba Malin Kundang yang bukan produk sastra tulis modern.

Padahal, di dalam novel, tokoh Sitti Nurbaya tidaklah dipaksa ayahnya menikah dengan lelaki tua itu, melainkan mengambil inisiatif untuk meringankan beban orangtuanya. Demikian juga halnya Datuk Maringgih, ia adalah tokoh pejuang yang melawan kesewenang-wenangan Pemerintah Kolonial Belanda dengan ikut berperang hingga tewas di tangan serdadu "Belanda Melayu" Syamsulbahri yang dulunya kekasih Sitti Nurbaya.

Dari semua itu, terindikasi bahwa telah terjadi degradasi nilai terhadap karya sastra modern, Sitti Nurbaya, Kasih Tak Sampai, karya Marah Rusli yang terbit pertama kali pada tahun 1922. Di sisi lain karya tersebut merupakan novel modern Indonesia terpopuler hingga kini, bahkan tokoh-tokoh ceritanya telah menjadi mitos. Itu berarti bahwa masyarakat Indonesia masih dekat dengan tradisi lisan dan masih jauh dari masyarakat gemar membaca.

Harris Effendi Thahar Penulis Cerpen dan Guru Bahasa dan Sastra Indonesia, Bermukim di Padang

sumber : http://kompas.com/kompas-cetak/0706/10/seni/3506232.htm

0 komentar:

Poskan Komentar

 
◄Design by Pocket